Wednesday, March 16, 2011

Suami Suka Mabuk Dan Membawa Wanita Ke Rumah

Konsultasi seksologi di Tabloid Gaya Hidup Sehat dengan Prof. Wimpie Pangkahila Sp.And (*)

"Dokter, saya punya masalah yang rumit. Begini. Usia saya 29 tahun, dan telah menikah lima tahun. Saya pernah keguguran dua kali. Terus terang saya merasa bersyukur dengan keguguran itu, karena kebetulan suami sering memukuli saya.

Perlu Dokter ketahui, suami saya suka minum alkohol sampai mabuk. Ini dilakukannya sejak perusahaan orangtuanya bangkrut. Suami juga sudah lama tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga kami hidup dari penghasilan saya. Dalam situasi seperti itulah, dia sering memukuli saya.
Dipukuli saya masih bisa menahan, tetapi perasaan sakit hati dan harga diri yang direndahkan, saya tidak sanggup menahan lagi. Kira-kira 1,5 tahun terakhir ini dia sering membawa pulang perempuan (berganti-ganti). Untuk apa lagi kalau bukan berbuat tidak senonoh, di kamar tidur kami.

Sebetulnya saya sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan perkawinan ini. Apa yang bisa saya harapkan dari pasangan hidup seperti itu? Materi tidak, kebahagiaan batin pun tidak. Sejak dia saya pergoki membawa pulang perempuan, saya pun tidak lagi sudi melayaninya di tempat tidur.

Namun untuk bercerai, ternyata orangtua saya sangat menentangnya, karena dianggap aib atau tabu bagi keluarga. Saya diminta mempertahankan perkawinan sebisa mungkin. Orangtua masih berharap, suami saya akan sadar.

Yang saya lakukan kemudian adalah meminta kantor untuk memindahkan saya di luar kota, dan terkabul. Hati saya sedikit lega, karena paling tidak saya tidak perlu berurusan dengan suami yang sudah rusak seperti itu.

Setelah jauh dari suami, ada seorang pria (bule) yang mendekati saya. Sikapnya sungguh romantis dan penuh perhatian kepada saya. Pendek kata, dia berbeda 180 derajat dibanding suami.

Sebagai wanita yang pernah menolak berhubungan seks dengan suami, keinginan dan gairah saya mulai kembali muncul. Saya mulai merindukan sentuhan pria.

Sungguh Dokter, saya sering membayangkan hubungan yang jauh dengan pria tersebut. Tapi untuk merealisasikannya, saya masih ragu-ragu, karena status saya masih isteri orang sehingga sama dengan selingkuh. Untungnya, teman pria saya itu tidak memaksakan.

Yang ingin saya tanyakan:
1. Dalam situasi saya seperti itu, apakah selingkuh dibolehkan?
2. Sampai kapan saya harus bertahan dalam situasi seperti ini?
3. Jika saya lama tidak berhubungan intim, apakah lama kelamaan gairah seksual saya akan hilang?
4. Apakah solusi yang menurut Dokter terbaik untuk saya ambil?" Mira, Jakarta.


Pengaruh Alkohol
Saya dengan mudah dapat memahami perasaan Mira yang tidak sanggup lagi hidup bersama suaminya. Dua perlakuan yang sangat menyakitkan telah ia terima dari suaminya, yaitu kekerasan fisik dan penyelewengan seksual yang dilakukan di depan matanya.

Mudah dimengerti kalau Mira kemudian menolak melakukan hubungan seksual dengan sang suami. Penyelewengan seksual yang dengan nyata dilakukan oleh suami di depan mata dan di kamar tidurnya, pasti telah membuat Mira mengalami trauma.

Beberapa akibat mungkin dapat dialami oleh perempuan yang mengalami trauma seperti Mira, yaitu: 1) timbulnya perasaan benci dan takut terhadap yang bersangkutan dan pria pada umumnya, 2) hilangnya dorongan seksual, 3) perasaan menolak semua bentuk aktivitas seksual, 4) munculnya perasaan senang dan tertarik terhadap sesama perempuan.

Tetapi perilaku sang suami itu tampaknya tidak terlepas dari kebiasaannya minum alkohol, bahkan sampai mabuk. Sangat mungkin perilaku sang suami itu di luar kontrol mengingat dia berada dalam pengaruh alkohol.
Kalau saja dia tidak berada di bawah pengaruh alkohol, mungkin perilakunya lebih dapat dikontrol, sehingga tidak mungkin dia melakukan penyelewengan seksual di depan isterinya. Namun tentu saja kebiasaan minum alkohol itu tidak dapat dengan mudah dijadikan pemaaf bagi Mira. Masalahnya, dia telah mengalami siksaan dan penderitaan fisik maupun mental yang menyakitkan.

Boleh Selingkuh?
Maka keputusannya untuk pindah tempat kerja agar terpisah dengan suami, merupakan keputusan yang baik. Pertemuannya dengan seorang pria di tempat baru telah membuktikan bahwa Mira ternyata tidak mengalami akibat seperti di atas, yang dapat timbul karena trauma yang dialaminya. Terbukti dia tertarik kepada pria itu, dia menjadi terangsang kembali, bahkan dia sering membayangkan melakukan hubungan seksual dengan pria itu.

Tetapi agaknya Mira masih mampu mengontrol diri, sehingga dia merasa ragu-ragu karena mengingt statusnya masih terikat perkawinan dengan suami yang menyakitinya itu.

Kalau Mira memaksakan diri melakukan hubungan seksual dengan pria itu, belum tentu dia dapat merasakan kepuasan karena dia mengalami hambatan psikis berupa keragu-raguan itu. Kalau ini terjadi, saya khawatir justru dapat menimbulkan hambatan psikis yang dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual yang lebih buruk lagi.

Jadi masalahnya, bukan boleh atau tidak boleh berselingkuh dengan pria itu, tetapi akibat yang mungkin terjadi itu yang perlu dipikirkan. Kecuali kalau Mira tidak mengalami keragu-raguan, sehingga tidak ada hambatan psikis ketika melakukan hubungan seksual dengan pria itu.

Tidak Hilang

Tidak benar dorongan seksual atau gairah seksual akan hilang bila lama tidak melakukannya. Namun benar bahwa dorongan seksual memang berkaitan dengan pengalaman seksual sebelumnya.

Bila pengalaman seksual sebelumnya dirasa menyenangkan, maka dorongan seksual akan dirasakan baik. Tetapi sebaliknya, hubungan seksual yang tidak menyenangkan dapat menjadi penyebab hilangnya dorongan seksual. Justru inilah yang dialami Mira dari suaminya yang pemabuk itu.

Jalan Keluar
Saya pikir jalan keluar terbaik bagi Mira saat ini ialah merenung lagi dan membuat keputusan, apakah masih dapat meneruskan bahtera pernikahannya dengan sang suami. Tentu saja saya mengerti, tidak mungkin Mira dapat melanjutkan pernikahannya bila sang suami masih suka mabuk seperti sekarang.

Tetapi apakah mungkin Mira melanjutkan pernikahannya, bila sang suami tidak mabuk dan berhenti dari perilaku buruknya? Hanya Mira yang mampu menjawab karena dia sendiri yang mengalami trauma selama ini, dia sendiri yang mengalami bagaimana perasaan dan ikatan emosionalnya dengan sang suami.

Kalau dia merasakan masih terjalin ikatan emosional dengan sang suami, yang berarti masih mungkin dilanjutkan, ya berupayalah agar sang suami terlepas dari kecanduan alkoholnya. Upaya yang harus dilakukan ialah membawanya berkonsultasi kepada tenaga ahli. Siapa tahu setelah terlepas dari alkohol, dia menjadi suami yang baik dan mengasihi Mira.

Tetapi kalau Mira merasa sudah tidak ada lagi ikatan emosional dengan sang suami, berarti tidak mungkin lagi melanjutkan pernikahannya. Itu berarti tidak mungkin lagi pernikahan dilanjutkan, apa pun yang terjadi. Kalau sudah begini, ya tidak ada jalan lain. Perceraian adalah jalan keluar yang terbaik.

Andaikata perceraian benar terjadi, bukan berarti Mira begitu saja mengambil keputusan segera menikah dengan pria bule itu. Mira harus tetap menjalin hubungan yang baik dulu sebelum mengambil keputusan menikah dengan dia. Jangan sampai mengalami masalah serupa dengan yang pertama, karena akibatnya pasti lebih buruk.
(*) Spesialis Andrologi dan Seksolog serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali

http://99ratiz.blogspot.com/2011/02/suami-suka-mabuk-dan-membawa-wanita-ke.html

No comments:

Post a Comment